![]() |
|
||||
|
Mancing di Pulau Abang, Galang
Mancing di Pulau Abang, Galang Written by ABDUL HAMID , Sunday, 14 February 2010 09:05 Adu Cepat dengan Gigitan Tenggiri Selain terkenal dengan keindahan terumbu karangnya, pulau Abang juga banyak dikunjungi penggemar memancing ikan. Jenis ikan seperti kerapu, kakap merah, pasir merah dan tenggiri banyak hidup di sana. ”Targetnya mancing tenggiri,” kata Ardika Kusuma, pemancing dari International Fishing Tackle (IFT) Jakarta. Ardika datang jauh-jauh dari Jakarta ke Batam, hanya untuk memancing. Ia sudah memancing di banyak tempat. Terutama di kawasan kepulauan seribu, Jakarta. Maka, Selasa pagi pekan lalu itu, pagi-pagi sekali, Ardika, Mohamad Rendra Wilianto dari Batam Fishing Club dan Batam Pos, berangkat menuju pulau Abang. Pulau Abang dituju karena di sana terkenal dengan pemancingan tenggirinya. Jika beruntung, bisa mendapatkan tenggiri seberat 7 kilogram. Dari simpang Barelang perjalanan menuju pulau Abang dimulai dengan berkendara sekitar setengah jam, melewati enam jembatan. Lalu berbelok ke kanan, melewati perkebunan buah naga. Di ujung jalan terdapat pelantar Pak Hasyim. Di situlah sudah menunggu perahu yang akan membawa kami memancing ke perairan pulau Abang. Abdul Rahmad, 37, nelayan pulau Abang, yang akan membawa kami ke tempat pemancingan tenggiri sudah bersiap sejak pagi. Kami naik pompong, perahu bermesin tempel, berkekuatan 40 PK. Bahan bakar premium sebanyak 50 liter kami siapkan dari Batam. Suasana tenang. Laut teduh, hampir tanpa gelombang. Pompong melaju ke tengah laut, melewati pulau-pulau kecil di Galang. Hampir sepuluh menit melaju, baru terasa gelombang mengombang-ambingkan pompong. Namun Abdul Rahmad sudah berpengalaman. Pompong terus melaju memecah gelombang, lincah miring ke kanan dan ke kiri. Kami menuju rumpon milik Abdul Rahmad. Di sanalah kami akan memancing tenggiri. Tentu saja memancingnya bukan tepat di atas rumpon, tapi di sekitarnya. Hampir setengah jam perjalanan, rumpon Abdul Rahmad yang ditandai dengan botol plastik terlihat dari jauh. Kami berhenti beberapa meter dari rumpon. Gelombang cukup besar, dengan arus yang juga cukup kuat. “Mancing tenggiri memang harus di tempat yang berarus,” kata Rahmad dengan logat Melayu, kental. Rahmad meminta Rendra menurunkan kail, untuk memancing ikan tamban. Ikan dengan sisik dan berduri halus itu akan digunakan sebagai umpan memancing tenggiri. Baru beberapa detik, kail Rendra sudah penuh dengan ikan tamban. Sekali angkat, lima ikan tamban tertarik. Lima kali Rendra memancing tamban. Jika tadinya terdapat lima kail, kini kail tambannya berkurang dua. Rupanya, ikan-ikan tamban hasil tangkapan Rendra disambar tenggiri sebelum sempat ditarik ke perahu. “Itu tandanya di bawah banyak tenggirinya,” katanya. Ardika, Rendra dan Rahmad menurunkan kail. Untuk beberapa menit, tak satupun kail mereka bersua tenggiri. Adalah Rahmad yang memecah kebuntuan itu. Tangannya bergerak cepat, menarik benang berkail runcing yang digigit tenggiri. Ia tersenyum saat tenggiri seberat kira-kira 500 gram berada di tangannya. Memancing tenggiri, kata Rahmad, harus pintar-pintar. Tangan tak boleh kalah cepat dengan tenggiri. Jika sekali tersendat, maka benang akan putus digigit tenggiri. Meski kail sudah menancap dalam, tenggiri bisa lolos karena benang putus digigit giginya yang tajam. Tenggiri termasuk ikan carnivora dan bergigi sangat tajam. Apa yang diungkapkan Rahmad ada benarnya. Umpan Rendra yang sudah dilahap habis tenggiri, tak serta merta membuat kailnya membuahkan hasil. Tenggiri lolos karena bukan hanya umpan tamban yang digigitnya, tapi benang di atas kail juga digigit putus. Baru diumpan kedua, kail Rendra membuahkan hasil. Tenggiri yang lebih besar memakan umpannya. Ia cepat menarik, alat pancingnya melengkung. Rendra baru benar-benar tersenyum saat seekor tenggiri menggelepar di dalam kotak penyimpanan ikan. Namun memancing di Selasa pagi itu lebih banyak lepasnya. Ada sekitar sepuluh ekor tenggiri lepas, gara-gara benangnya putus. Bahkan ada yang tenggirinya lari saat hendak diangkat ke atas perahu. Itu berarti sepuluh kail juga lesap dibawa tenggiri. “Benar-benar tak nasib kita hari ini. Tenggirinya pintar betul,” kata Rahmad. Tak puas di satu rumpon, perahu kemudian pindah ke rumpon yang lain. Tapi alam berbicara lain. Gelombang besar menerpa. Kami pun kembali ke Batam. |
|
|||||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||