Batamfishing

Go Back   Batamfishing > BatamFishing.Com > Member Baru
Daftar Forum FAQ Members List Calendar Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 12-12-2008, 09:42 AM
Kenzie's Avatar
Excellent Fishing
 
Join Date: Oct 2008
Location: Batam - Luwuk
Posts: 196
Kenzie is an unknown quantity at this point
Post kapal karam

guys... mudah2an isi postingan ini bisa memberikan pelajaran berharga bagi kita sambil mengisi waktu menunggu report dari yg ngetrip ke pulau nipah dsb week end ini.. hehehehhee..

di CoPas dari Batam Pos
Jumat, 12 Desember 2008
Empat belas anak buah kapal (ABK) MV Mega Permai berhasil dievakuasi setelah tiga hari dua malam mengapung di laut karena kapal mereka tenggelam dalam perjalanan dari Kalimantan ke Tanjungpinang. Satu tewas, 13 selamat. Apa saja yang dilakukan ABK ini untuk tetap bertahan hidup?


Senin, (8/12) pukul 10.00, MV Mega Permai bertolak dari Kalimantan menuju Tanjungpinang. Kapal yang memuat sekitar 50 ton sembako itu memilik 14 ABK, termasuk nakhoda. Perjalanan awalnya berjalan mulus, apalagi kondisi kapal sebelum berangkat bangus dan cuaca pun saat itu bersahabat.

“Tidak ada rasa was-was, karena kondisi mesin sebelum berangkat bagus, tak ada masalah,” ujar Haryanto (36), salah seorang ABK saat tiba di Pelabuhan Batuampar, setelah berhasil dievakuasi jajaran Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Armada Barat, kemarin.

Namun, kondisi berubah setelah enam jam perjalanan, tepatnya pukul 14.00 WIB. Saat itu, kapal masuk ke perairan Tambelan, Bintan. Cuaca mulai tak bersahabat, bahkan lama kelamaan ombak makin menggunung. Kapal pun diguncang ombak dan tiba-tiba mesin mati. ”Saya ingat saat itu badai mulai datang. Angin sangat kencang, gelombang tingginya mencapai lima meter,” ujar Haryanto.

ABK bagian mesin pun berusaha untuk memperbaiki kapal tersebut, namun mengalami kesulitan, karena kapal yang sarat dengan muatan sembako terus digoncang ombak besar.

Melihat kondisi yang makin lama makin berbahaya, salah seorang ABK berusaha menghubungi TNI AL di Tanjungpinang. Para ABK ini sudah yakin kapal takkan bertahan lama. Pasalnya, gelombang begitu tinggi dan kondisi cuaca semakin tak bersahabat. Apalagi, air sudah mulai masuk ke dalam kapal, sementara mesin tak kunjung hidup.

Ke-14 ABK semakin panik ketika ketinggian air di dalam kapal sudah menutupi mesin. Harapan untuk memperbaiki kerusakan mesin pupus sudah karena mesin telah terendam air laut. “Buat rakit,” teriak seorang ABK pada rekannya yang lain saat itu.

Spontan ABK kapal ini mencari apa yang bisa digunakan untuk rakit. Jerigen yang berisi air minum pun buru-buru dikosongkan airnya. Termasuk jerigen yang berisi bahan bakar untuk kapal. Ada juga yang bergerak memotong tali yang ada di kapal. Lalu jerigen yang jumlahnya 20 itu dirakit dengan menggunakan tali nilon. Sementara, air terus masuk ke dalam kapal.

“Bukan pakaian (celana, red), supaya mudah berenang dan tidak berat,” teriak salah seorang ABK. Ke-14 ABK inipun bergegas membuka pakaian mereka, khususnya celana panjang. Beberapa sempat terjatuh ketika membuka celana panjang mereka karena kapal terus dihempas ombak besar. Namun, masih tetap di dalam kapal.

Sejurus kemudian, pakaian mereka sudah dibuka. Hanya baju kaos yang tersisa dengan celana dalam. Setelah itu, nahkoda dan seluruh ABK melompat ke laut. Mereka langsung naik ke atas rakit yang diturunkan sebelum kapal tenggelam.
”Saya perkirakan kapal mulai tenggelam sekitar pukul 16.00 WIB. Buritannya yang duluan tenggelam. Hanya 20 menit, setelah itu tak terlihat lagi,” ujarnya.

Celakanya, ternyata rakit yang mereka buat dari jerigen, tidak mampu menampung ke-14 ABK ini. “Kami terpaksa gantian. Siapa yang kondisinya masih kuat bertahan, maka dia berpegangan di rakit dan badannya masuk ke air,” kata laki-laki asal Mandah, Tembilahan, dan berdomisili di Dabo ini.

Sebelum kapal tenggelam, TNI AL dari Tanjungpinang yang dihubungi sempat memberikan pertolongan. Dari atas pesawat Nomad, dilemparkan sejumlah life jacket ke arah mereka. Naasnya, karena arus kuat life jacket hanyut terbawa arus sebelum terjangkau oleh 14 ABK ini. Pihak TNI AL meminta mereka bersabar dan menunggu waktu tiga jam karena bantuan segera datang. ”Tapi mereka kehilangan jejak kami karena cuaca buruk dan arus sangat kuat sehingga posisi kami terseret jauh dari lokasi tenggelam,” katanya.

Selama tiga hari dua malam mengapung di laut, 14 ABK ini tidak makan apa-apa. Mereka tak sempat membawa makanan yang ada di kapal. “Tak terfikir lagi bawa makanan,” katanya. “Saat hujan datang, mulut ditengadahkan ke langit,” katanya lagi.

Dalam kondisi perut lapar dan diombang ambing ombak, ke 14 ABK ini mengaku pasrah nasib yang bakal menimpa mereka. Mereka berusaha menghilangkan perasaan takut dan was-was dengan ngobrol di atas rakit, sambil menunggu bantuan datang. Mereka pun berpegangan erat, tak ingin melepaskan satu sama lainnya. “Takut kalau lepas jadi terpisah,” kata Haryanto.

“Saya dan ABK lain belum banyak kenal. Kami baru ketemu dalam pelayaran dari Pontianak ini, tapi disaat kami tertimpa musibah, kami tak ingin berpisah,” kata Hariyanto.

“Bantuan yang ditunggu lama datangnya. Pasalnya, perairan lokasi tempat kapal mereka tenggelam sepi dan jarang dilewati kapal barang,” katanya lagi.

Setiap melihat kapal lewat, mereka melambaikan tangan minta bantuan. Selama tiga hari dua malam mengapung, hanya sekitar enam kapal tanker yang lewat. Keempatnya selalu berteriak sekeras-keras ketika ada kapal lewat, namun deru ombak dan kencangnya angin membuat suara mereka tak terdengar, khususnya pada malam hari. “Sempat ada yang melihat tapi tak mau menolong,” kata Haryanto.

Meski begitu, mereka tetap tidak putus asa. Namun masalah timbul ketika semakin lama kondisi fisik mereka semakin menurun. Tenaga juga makin terkuras sehingga beberapa ABK mulai lemas. “Terpaksa kami makan potongan baju kaos yang kami bawa dan minum air laut untuk bertahan,” kata Haryanto.

Meninggal

Namun, salah satu ABK bernama Agus Bin Muhamad, sudah tak kuat lagi. Tenaganya sudah habis, sehingga tak mampu lagi berpegangan di rakit. Namun begitu, ABK lainnya secara bergantian memegang tangan Agus agar tak terpisah. Hingga pada akhirnya, Agus menghembuskan nafasnya yang terakhir di atas rakit yang terbuat dari jerigen itu. Ke-13 temannya pun tak dapat menahan tangis, namun mereka tetap berusaha tegar dan bertahan di tegah kondisi lemas dan cuaca dingin serta berombak besar itu.

Tak ada pesan khusus yang disampaikan Agus untuk keluarganya. Teman-temannya pun hanya bisa berdoa semoga terselamatkan dan ada pertolongan dari tim SAR atau kapal lain saat itu. “Meski tak bernyawa lagi, jasad Agus tetap kami jaga, kami bertekad tidak akan melepaskannya, hidup mati harus tetap bersama,” ujar Haryanto sambil melirik Agus yang jasadnya digotong menggunakan tandu ke mobil jenazah di Pelabuhan Batuampar.

Doa ke-13 ABK yang masih bertahan di tengah sisa tenaga yang tersisa ini akhirnya terkabul. Sebuah kapal tanker berbendera Kanada melintas di dekat mereka setelah pas tiga haru dua malam dipimpong ombak. Kru kapal ini pun memberikan pertolongan. Satu persatu mereka dinaikkan ke atas kapal.

“Kami hanya bisa mengucap syukur saat itu, bahagia bercampur harus,” kata Haryanto. “Kami dikasih makan dan baju (warna putih). Kalau mereka tak ada, mungkin kami tak bisa bertahan, karena tubuh semakin lemas,” ujarnya.
Meski diberi makan, namun tidak membuat tenaga ABK ini langsung pulih. Mereka masih tetap lemas sehingga hanya mampu berbaring. Hanya Haryanto yang fisiknya masih kuat.

Tak lama setelah ditolong kapal tanker berbendera Kanada itu, KRI Cucut datang menjemput mereka, setelah sebelumnya kapal berbendera Kanada itu berkoordinasi dengan otoritas Singapura, lalu pihak Singapura berkoordinasi dengan Guskamla Armabar. ABK ini pun dievakuasi ke dalam kapal milik Guskamla Armabar itu. Kemudian mereka dibawa ke Batam untuk mendapatkan pertolongan medis.

Setelah sampai di pelabuhan Batuampar, satu persatu ABK ini dipapah menuju mobil untuk dibawa ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB). Wartawan koran ini berusaha menyapa mereka, namun tak satupun yang bisa buka mulut terkecuali Haryanto. Wajah mereka terlihat murung. Kaki mereka masih gemetaran dan tak mampu melangkah kalau tak dibopong. Tatapan mata mereka terlihat kosong. Tampak jelas trauma di wajah mereka.

Haryanto, masih sempat mengucapkan terimakasih kepada Danguskamla Armabar dan jajaranya yang telah berusaha menyelamatkan mereka.

Meski mengalami kejadian tragis, Hariyanto mengaku tak kapok menjadi pelaut. Meski sudah lebih dari lima tahun menjadi pelaut, kejadian ini pengalaman pertamanya. “Ketimbang teman lain, kondisi saya cukup kuat. Padahal saya yang banyak luka lecet,” tukasnya.

Ke-13 ABK yang selamat ini hingga kemarin masih dirawat di RSOB. Mayat Agus juga masih dititipkan di ruang mayat RSOB, menunggu keluarganya. (cr2/dea)



salute....
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
  #2 (permalink)  
Old 05-10-2017, 10:20 AM
Fresh Fishing
 
Join Date: Sep 2017
Posts: 5
najwa4 is an unknown quantity at this point
Ini thread untuk perkenalan bukan untuk memposting artikel lho
__________________
kursi cafe
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Reply

« Salam perkenalan | - »

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

vB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On



All times are GMT +7. The time now is 01:31 AM.


Lukisan - Galeri Lukisan - Lukisan Murah - Lukisan Termurah - Lukisan Hotel - Lukisan Abstrak
Jual Sketsel Pembatas Ruangan
Powered by vBulletin® Version 3.6.4
Copyright ©2000 - 2017, Jelsoft Enterprises Ltd.
Search Engine Friendly URLs by vBSEO 3.1.0 ©2007, Crawlability, Inc.
Komunitas Mancing Batam