Waktu : Minggu 3 Oktober, 06.00 – 21.00
Lokasi : Seputar Abang – Perairan Tukil – Hampir ke Buaya
Kapal/Tekong : Pak Kaer (fasilitas Fishfinder + GPS, kamar istirahat, dapur, wc)
Spot : Rajin berpindah-pindah tergantung ada ikan/tidak di FF (good service), ada 4 spot yang ramai strike (tidak pakai rumpon):
1. sensor
2. sensor
3. sensor
4. sensor
(yang mau koordinatnya, PM saja, saya tidak tahu aturan bagi-bagi spot itu boleh atau tidak, tunggu nasihat dari suhu-suhu dan pak momod di thread ini)
Angler : 10 orang, kawan-kawan dari kantor
Cuaca : Teduh 06.00 – 14.00, Terik 14.00 – 17.00. Angin sepoi-sepoi, semalam habis badai
Arus : Moody, kadang bandul 11 bisa tegak lurus, kadang bandul 44 bisa miring 45o
Kondisi air : keruh kehitaman, kadang bening
Hasil : 2 cool box, ikan pasir, ikan kaci, ikan karang (parrotfish), lencing, ikan marah bini, ikan poyot, ikan sepatu
Umpan : Udang beku, gurita hidup, kotrekan berbagai brand dan tipe
Trip dadakan, dari teman sekantor, berangkat dari Batam jam 4 pagi, jam 6 kurang sudah naik kapal dari pelabuhan sebelum Hasyim. Sebelumnya ada kapal merapat pulang mancing malam, basah kuyup karena kena badai, jadinya kita yang mau berangkat jiper juga, tapi karena sudah sakaw, jadinya lanjut saja. Padahal sedang musim badai di laut cina selatan.
Berangkat langsung ke perairan Tukil, selama perjalanan cuaca sangat mendukung. Tiba di spot 1, arus lemah, air cukup hangat dan lumayan bening, langsung turun kotrekan sabiki HAS no.12 bandul no.11, turun tegak lurus, begitu sampai dasar, line braided langsung kena tremor, dicelup-celup agak lama biar dapat banyak (saya kira dapat tamban atau selar), rupanya cuma naik 1 ekor ikan pasir (kata Pak Kaer) ukuran lumayan besar, saya “first blood” hari itu, hehe.
Lepas ikan, turun lagi, sama saja, begitu bandul sampai dasar, langsung tremor, naik lagi ikan pasir. Turun lagi, naik lagi ikan pasir, dst. Feeding frenzy nih. Kawan-kawan lain langsung ikut-ikutan mengganti arsenal dengan kotrekan (awalnya langsung dasaran pakai umpan udang dan gurita hidup), dan kita ngomzet ikan pasir dan lencing disini. Pak Kaer pun ikutan ngotrek dan ikan pasir pun terus naik. Kami berpindah-pindah sekitar spot 1 dan 2.
Tengah hari, ikan sudah tidak mau makan lagi, kecuali lencing dan marah bini, tak ketinggalan kerapu durhaka a.k.a poyot, kami putuskan untuk makan siang. Sementara kapal sudah angkat jangkar ke spot 3. Disana ikan pasir dan lencing juga ikut naik tapi tidak seramai pagi hari. Matahari mulai terik, ikan juga sudah mulai malas makan.
Matahari mulai teduh, sudah sore, kami ganti setting ke dasaran. Di Tukil, malam hari banyak feedback, tapi ada keraguan kalau bukan ikan, tapi tersangkut ke karang. Terhitung di Tukil dan spot 4, sekitar P.Abang, saya sudah “dikerjai” sampai 4 kali. Saya pakai set light tackle reel class 4000, tiba-tiba wuttt! disambar ke dasar benang terulur terus sampai saya kewalahan menariknya, ada getaran keras di bawah, entah ikan apa, takut joran patah, 3 orang memegangi tali pancing saya dan mencoba menahan, tapi akhirnya mocel

, katanya kail saya terlalu kecil. Yang lain juga mengalami hal yang sama begitu, namun Pak Kaer bilang, kalau tidak ada perlawanan, berarti tersangkut karang.
Ternyata banyak yang mengalami hal serupa dan berhasil fight, ada ikan Kaci ukuran standar, dan ada yang mendapat parrotfish ukuran 1-2 kg. Mungkin ikan-ikan ini yang menyeret pancing dan tersangkut di batu karang tapi who knows?
Pukul 21.00 tepat kita pulang meluncur ke pelabuhan.
Saya masih penasaran dengan ikan yang menyambar itu, menyesal pakai light tackle dan belum sempat merubah arsenal ke class 8000.
Foto menyusul, sibuk narik ikan, sampai lupa foto-foto, hehe..
kesimpulan : Trip yang lumayan lah, daripada daripada...
